1

Menjadi Mentor Sejati

Every kid needs a mentor. Everybody needs a mentor. – Donovan Bailey

Dalam perjalanan menuju ke suatu tempat pelatihan di daerah Sumatera Utara, sepanjang perjalanan tersebut saya banyak berbincang-bincang dengan seorang bapak yang kebetulan menyupiri mobilnya untuk mengantarkan saya ke tempat seminar. Satu hal yang menarik perhatian saya adalah perbincangannya mengenai topik perjalanan hidup.

Sepanjang perjalanan, sang bapak tersebut yang sebelumnya mengetahui profil saya, tidak habis – habisnya bertanya segala hal yang berkaitan tentang diri saya. Pertanyaannya yang menarik bagi saya, sampai – sampai hal ini menjadi ide artikel saya adalah mengenai siapa yang menjadi mentor saya.

Sesaat setelah pertanyaan itu diajukan, saya pun terdiam sesaat. Mengenang perjalanan hidup masa lalu saya yang begitu susahnya hingga bisa seperti sekarang. Saya pun menyadari hal ini dapat terjadi dalam hidup ini dikarenakan hadirnya mentor – mentor yang berperan penting di dalam kehidupan ini.  Saya pun teringat suatu pepatah yang mengatakan, jika kita mau belajar mengenai sesuatu maka carilah seorang mentor yang dapat membimbing kita.

Saya sepenuhnya setuju dengan pernyataan tersebut. Dan kalau kita mengamati orang – orang sukses di dunia ini pastiah memiliki mentor yang akhirnya membantu membawa mereka ke puncak kesuksesannya. Kita ambil contoh saja. Napoleon Hill, penulis legendaris pertama di bidang Personal Success, ternyata banyak dimentor oleh Andrew Carnegie. Kesuksesan Donald Trump, tidak lepas dari bimbingan langsung ayahnya. Sementara, Robert Kiyosaki, jelas-jelas mengatakan “ayah kayanya” sebagai mentor pribadinya.  Dari hal ini bisa saya simpulkan, dibalik orang yang telah sukses dalam hidupnya, pastilah ada orang yang telah membimbing mereka menjadi seperti itu.

Orang – orang yang duduk bersama dengan sang mentor tentunya sedikit banyak akan mewarisi keahlian yang juga dimiliki oleh sang mentor. Nah, hingga disini Anda mungkin bertanya bagaimana mendapatkan mentor yang tepat tersebut? Sebenarnya, mencari mentor bisa dimana saja asal kita mau, kita bisa mengajak seseorang yang kita mau belajar darinya dengan mengajak makan bersama, bertemu, berdiskusi, atau bisa juga mentor kita adalah buku, cd audio, dll yang kita bisa pelajari pola pemikirannya.

Hingga disini, perlu saya tegaskan bahwa sebagai seorang pemimpin, kita tidak ingin berakhir hanya sebagai seorang yang dimentor saja. Tujuan akhir kita tentunya adalah menjadi mentor itu sendiri! Terlebih lagi di Indonesia yang saat ini sedang mengalami krisis. Indonesia, negara kita ini memerlukan begitu banyak mentor yang akan membantu mengembangkan banyak orang untuk menjadi orang yang maksimal dalam hidupnya, sehingga ujung – ujungnya situasi dan kondisi negara ini bisa menjadi baik.

Saya sendiri secara pribadi, menemukan minimal ada 2 hal yang perlu dilakukan untuk menjadikan kita sebagai seorang mentor yang sejati.

Pertama, seorang mentor sejati haruslah mampu mengenali apa yang menjadi potensi dari orang yang dimentor. Ada sebuah pepatah yang mengatakan ”Mentor: someone who can make your hindsight become your foresight”. Ya, untuk menjadi seorang mentor yang sejati tentunya kita harus dapat mengenali apa yang menjadi kelebihan serta potensi tersembunyi (hindsight) seseorang, hingga akhirnya bisa menjadi potensi yang sebetulnya bisa dikembangkan (foresight).

Kedua, mengembangkan serta memaksimalkan potensi orang yang kita mentor. Hal yang kedua, tentunya setelah sebagai mentor, kita juga harus bergerak kepada proses membantu orang yang kita mentor mencapai kemaksimalan dalam potensinya.

4 Tahapan Kemajuan Mentoring

Sekarang bagaimanakah tahapan – tahapan untuk mengembangkan orang yang kita mentor? Ada tahapan yang lebih spesifik yang tentunya dapat Anda temukan saat mengikuti workshop “Coaching & Counselling Excellency” yang akan diadakan di akhir bulan ini. Pada kesempatan kali ini, saya akan menjelaskan ada 4 tahapan proses untuk membantu seseorang menjadi maksimal dalam potensinya.

Tahap pertama – I Do You Watch. Tahap pertama ini saya sebut sebagai tahap belajar, dimana orang yang kita mentor kita libatkan untuk banyak melakukan observasi terhadap apa yang kita kerjakan. Mereka diminta belajar memahami pola – pola yang kita lakukan, sehingga di dalam dirinya akan muncul inspirasi untuk dapat melakukan hal – hal yang sama bahkan lebih baik. Disini seorang mentor harus dapat menjadi model, sehinggi orang yang dimentor dapat memodel prinsip – prinsip yang bekerja, yang akhirnya akan membantunya mencapai kemaksimalan.

Tahap kedua – I Do You Help. Setelah tahap pertama, maka proses selanjutnya adalah dengan mulai melibatkan orang yang kita mentor untuk mulai membantu hal – hal yang sedang kita lakukan atau kerjakan. Dalam proses ini, tentunya orang yang kita mentor akan lebih memahami proses yang sedang kita lakukan karena mulai untuk dilibatkan dalam proses yang sedang dilakukan oleh sang mentor.

Tahap ketiga – You Do I Help. Setelah mencapai tahap kedua, maka pergerakan selanjutnya adalah di tahap yang ketiga. Dimana orang yang kita mentor harus sudah berani untuk take action melakukan apa yang saat ini sedang kita kerjakan. Disini sebagai seorang mentor, tugas kita adalah menjadi supervisor yang mamberikan saran, masukan (feedback) untuk pengembangan lebih jauh menuju potensi maksimalnya.

Tahap terakhir – You Do I Watch. Di tahap terakhir inilah kita sebagai seorang mentor benar – benar melepaskan orang yang kita mentor untuk bergerak sendiri. Sampai di posisi ini, tugas seorang mentor dalam mensupervisor tidaklah sebanyak tahap – tahap awal. Biasanya orang yang dimentor yang sudah dalam tahap ini, jika mengalami kesulitan atau kendala, maka secara otomatis akan datang dan menghampiri kita sebagai mentor untuk mendapatkan masukan atau feedback.

Jika sudah sampai tahap ini, maka proses menjadi seorang mentor yang sejati sudah berjalan setengah jalan. Lho koq baru setengah? Iya, mengutip kata – kata dari pakar leadership dunia, John Maxwell yang mengatakan bahwa seorang pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang dapat menghasilkan pemimpin yang menciptakan pemimpin selanjutnya. Begitu pula sebagai seorang mentor yang berhasil adalah saat orang yang kita mentor berhasil menjadi mentor bagi orang lain yang akhirnya merupakan mentor juga. Jadi marilah menjadi mentor yang sejati bagi kemajuan bangsa kita tercinta ini!

Share this article:

You might also like this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CONTACT US

Jika Anda mempunyai pertanyaan ataupun kebutuhan di seputar seminar & training, Anda dapat menghubungi Anthony Dio Martin melalui alamat :

Location HR Excellency
  Address
Jl. Tanah Abang V No.32,
Kompleks Ruko Tanah Abang V, Jakarta Pusat 10160.
  Phone
021-3518505 / 021-3862521 (Hunting)
  Whatsapp
085771221352
  Email
info@hrexcellency.com
admartin@indo.net.id
Master Trainer HR Excellency-MWS International, Speaker, Entrepreneur, Author & Media Personality.