1

HATI-HATI KALAU MAU CURHAT!

“Jangan sembarangan ceritakan tentang dirimu kepada orang. Ada yang betul-betul peduli, tetapi sebagian besar mendengarkan, hanya untuk bisa menggosipkan dirimu!”

Salah seorang rekan saya menyesal setengah mati. Dia lagi punya problem keluarga. Dan ketika problemnya diceritakan pada teman yang dia anggap bisa dipercayainya, justru jadi masalah. Kisah pribadinya malahan tersebar kemana-mana. Sampai-sampai, ia didatangi teman kantornya lainnya, yang tidak ada angin tidak ada badai, mengatakan, “Sesusah-susahnya perkawinan, jangan sampai bercerai dong!”. Nah lho, tahunya dari mana? “Bayangkan”, temanku bilang, “Kan nggak nyaman, dinasihatin sama orang yang nggak ada urusan sama sekali dengan saya. Lha dia tau dari siapa?”. “Menyesal juga menceritakan kisah saya, Pak!”. 

Memang, hati-hatilah curhat atau berbagai kisah. Pikirkan dulu, dengan siapa dan apa dampaknya kalau orang itu tahu. Apalagi, orang itu, sama sekali tidak berkepentingan, bukan seorang terapis dan bukan seorang psikolog ataupun konselor. Ngapain cerita kepada mereka yang ujung-ujungnya hanya ditanggapi dengan dingin-dingin saja plus kisahmu disebarluaskan dan menjadi bahan gossip mereka?

So, pikirkanlah matang-matang sebelum kamu membagikan kisahmu.

Pertimbangan Penting Sebelum Curhat

Curhat memang membuat kita menjadi lebih ringan. Kita juga sering merasa lebih plong tatkala kita merasa ada orang yang mau mendengarkan kisah maupun cerita kita. Namun, kembali kepada kasus di atas, berhati-hatilah dengan siapa Anda bercerita. Nah, bagaimana pertimbangan yang penting buat Anda sebelum curhat?

Pertama-tama, seberapa penting kisah itu diketahui oleh orang lain. Ingatlah, pada saat cerita kita diceritakan maka saat itulah Anda mengambil risiko kisah Anda akan dilanjutkan (baca: disebarkan). Pertanyaan penting disini adalah apa risiko terbesar yang bisa terjadi kalau sampai kisah Anda tersebut bocor kepada orang lain. Semakin besar risikonya, semakin Anda perlu pertimbangkan layakkah kisah Anda diceritakan. Atau, malahan mungkin lebih baik Anda simpan dan cari jalannya sendiri. Ingat, menceritakan pada orang lain selalu berisiko. Sudah siapkah Anda?

Kedua, tanyakan kredibilitas orang yang Anda akan ceritakan. Kalau orang itu termasuk orang yang seringkali berkata kepada Anda, “Sstt…saya punya sesuatu rahasia yang perlu kamu ketahui”. Maka berhati-hatilah dengan orang itu. Kalau dia bisa menceritakan kisah orang lain kepadamu, kenapa tidak mungkin dia menceritakan rahasiamu kepada orang lain? Bahkan, terkadang yang sudah punya sumpahpun bisa membocorkan rahasia kepada pihak lain apalagi yang profesinya bukan seorang psikolog ataupun konselor. Jadi, berhati-hatilah.

Ketiga, pikirkanlah kamu ingin curhat dengan tujuan apa? Kalau hanya sekedar ingin ada kuping yang mendengarkanmu, mungkin lebih tepat carilah orang yang bisa kamu percaya. Biasanya, saran saya adalah anggota keluargamu. Sebab merekalah yang biasanya paling tulus yang paling tidak akan merugikan kamu dengan kisahmu. Juga, merekalah yang biasanya paling akan bisa menerimamu. Dan kalau pun ingin mencari solusinya, pikirkanlah untuk curhat kepada para professional. Beruntungnya kala curhat kepada para professional, maka Anda akan mendapatkan sudut pandang yang berbeda dalam melihat suatu masalah bahkan mungkin Anda akan mendapatkan solusinya. Hanya saja, ada ‘ongkos mendengarkan’ yang perlu Anda siapkan sih.

Keempat adalah peritimbangan mengenai konsekuensi dari curhatan Anda. Pikirkanlah bagaimana kisahmu yang kamu ceritakan bisa dipakai untuk menjatuhkanmu ataupun dipakai untuk hal-hal yang buruk terhadap dirimu. Memang, pertimbangan ini kelihatannya cenderung negatif. Tapi, lebih baik kita bersikap waspada menyikapi curhat ini daripada menyesal belakangan. Dan ingatlah sekali lagi, banyak orang yang tidak layak untuk Anda curhatin. Ada yang cuma sekedar mendengarkan seperti mendengar angin lalu. Ada yang pura-pura berempati. Ada yang cuma penasaran dan tidak memberi solusi. Bahkan ada juga yang justru dalam hatinya mensyukuri masalah yang Anda alami. Itu berarti Anda sedang curhat kepada orang yang salah.

Kelima dan terakhir adalah ucapkanlah dengan tegas kalau kamu menginginkan kisahmu tidak dilanjutkan kepada siapapun. Terkadang, ada orang yang perlu diberitahukan bahwa kisahmu hanya untuk didengarkan olehnya bukan untuk disebarluaskan. Paling tidak ketika Anda mengatakan, “Please ya, ini hanya saya ceritakan ke kamu (dan siapa…). Dan jangan disebarluaskan ya”, kalimat ini menjadi pagar pembatas baginya bahwa ia telah dipercaya untuk tidak menyebarluaskan kisahnya.  Memang sih, dalam kenyataannya ada orang yang meskipun sudah diberitahu begitu, tetap saja akan menyebarluaskannya. Ya biarin aja. Tapi yang jelas, logikanya kalau Anda memintanya jangan disebarin ternyata ia tetap menyebarkannya apalagi kalau Anda tidak memintanya sama sekali. Jadi, ini hanyalah semacam usaha supaya ia mengerti pentingnya confidentiality (kerahasiaan) yang kamu percayakan. Sebagai contoh, saya sendiri ketika seseorang mengatakan kepada saya bahwa kisahnya adalah rahasia, maka akan saya jaga rahasianya rapat-rapat dan tidak pernah saya beberkan kepada siapapun, meski kepada teman trdekat sekalipun. Saya merasa bahwa kalimatnya adalah sebauh kepercayaan yang diberikannya kepada saya, maka saya harus menjaganya! So, hal ini perlu kamu tegaskan kalau tidak ingin curhatmu menjadi rahasia umum.

Terus, Kalau Begitu Mending Tidak Usah Curhat Sekalian?

Ya tidak perlu bersikap ekstrim seperti itu juga sih. Curhatpun ada manfaatnya. Apabila Anda curhat pada orang yang tepat, maka Anda akan memperoleh peneguhan, perasaan didengarkan hingga bisa memperoleh solusi yang tidak Anda pikirkan. Dan faktor-faktor itulah yang sering membuat seseorang mau mencari teman curhat. Disisi lain, hasil penelitian psikologi kepribadian mengatakan bahwa curhat menurunkan stress dan membuat kita lebih seimbang dan sehat secara mental. Jadi, curhat tidaklah sealu buruk.

Dengan begitu, kesimpulannya sederhana. Jangan terlalu gampang untuk curhat dan perimbangkanlah untung ruginya sebelum curhat. Janganlah curhat kepada orang yang salah! Salah-salah, justru Anda bertambah masalahnya!

Share this article:

You might also like this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CONTACT US

Jika Anda mempunyai pertanyaan ataupun kebutuhan di seputar seminar & training, Anda dapat menghubungi Anthony Dio Martin melalui alamat :

Location HR Excellency
  Address
Jl. Tanah Abang V No.32,
Kompleks Ruko Tanah Abang V, Jakarta Pusat 10160.
  Phone
021-3518505 / 021-3862521 (Hunting)
  Whatsapp
085771221352
  Email
info@hrexcellency.com
admartin@indo.net.id
Master Trainer HR Excellency-MWS International, Speaker, Entrepreneur, Author & Media Personality.